KumpalanNEWS – Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kabupaten Sukabumi melakukan perbaikan pada landmark Alun-Alun Gadobangkong, Palabuhanratu. Perbaikan tersebut dilakukan dengan mengganti material lama menggunakan konstruksi beton untuk meningkatkan ketahanan fasilitas di kawasan pesisir.
Kepala Disperkim Kabupaten Sukabumi Sendi Apriadi mengatakan, pemilihan beton dilakukan setelah mempertimbangkan kondisi lingkungan Palabuhanratu yang memiliki karakter cuaca pesisir. Material sebelumnya dinilai lebih rentan mengalami keropos dan korosi sehingga membutuhkan penanganan lebih sering.
“Jadi landmark untuk Gadobangkong ini kita ganti menggunakan beton karena situasi di Palabuhanratu berbeda, terutama cuacanya. Kemarin juga sempat keropos dan korosi. Kalau menggunakan bahan lain atau plastik, semakin mudah rusak. Jadi kita coba dipermanenkan seperti ini,” ujar Sendi, Selasa, 11 Agustus 2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, penggunaan beton tidak hanya mempertimbangkan tampilan landmark, tetapi juga aspek ketahanan, keamanan, dan kemudahan pemeliharaan. Sebagai bagian dari ruang publik, konstruksi landmark harus mampu bertahan menghadapi kondisi lingkungan serta aktivitas masyarakat.
Sendi menilai konstruksi beton juga memberikan rasa aman bagi masyarakat yang beraktivitas di sekitar landmark.
“Termasuk tidak khawatir kalau dijamah juga. Jadi kita gunakan beton seperti ini agar lebih awet dalam pemeliharaannya,” katanya.
Penggantian material tersebut diharapkan dapat memperpanjang usia pemanfaatan landmark sekaligus menjaga kualitas salah satu elemen visual di Alun-Alun Gadobangkong.
Selain memperbaiki landmark, Disperkim berencana melakukan penataan secara bertahap pada area di sekitarnya. Salah satunya dengan menyiapkan rumput di bagian bawah landmark agar tampilan kawasan lebih rapi dan menyatu dengan lingkungan alun-alun.
“Direncanakan bagian bawahnya sudah disiapkan rumput. Terus yang lainnya juga, tetapi mungkin bertahap,” ungkap Sendi.
Menurutnya, penataan kawasan tidak berhenti pada perbaikan landmark. Lingkungan di sekitarnya juga perlu ditata agar keberadaan fasilitas tersebut dapat mendukung tampilan Alun-Alun Gadobangkong secara keseluruhan.
Sendi juga menilai landmark memiliki fungsi lebih luas daripada sekadar elemen dekorasi. Keberadaannya dapat menjadi identitas visual ruang publik sekaligus memperkuat karakter kawasan Palabuhanratu.
“Paling tidak ini bisa dijadikan wajahnya Kabupaten Sukabumi,” ujarnya.
Karena itu, perbaikan landmark diarahkan tidak hanya untuk memperkuat konstruksi, tetapi juga mempertahankan fungsi kawasan sebagai salah satu ruang publik yang merepresentasikan Palabuhanratu.
Sendi berharap penataan tersebut dapat mempertegas ciri khas kawasan sekaligus memastikan Alun-Alun Gadobangkong tetap terpelihara.
“Yang pertama tentu selain bisa menegaskan bahwa alun-alun yang ada terpelihara, tentunya juga bisa membawa ciri khas Palabuhanratu,” katanya.
Kondisi cuaca pesisir menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menentukan material fasilitas publik di kawasan tersebut. Dengan konstruksi yang lebih permanen, risiko kerusakan diharapkan dapat ditekan sehingga kebutuhan pemeliharaan tidak terlalu sering.
Pada akhirnya, perbaikan landmark, penataan area sekitar secara bertahap, serta penguatan karakter Palabuhanratu diharapkan dapat membuat Alun-Alun Gadobangkong semakin representatif sebagai ruang publik sekaligus salah satu wajah Kabupaten Sukabumi.
“Lebih awet,” tegas Sendi saat menjelaskan harapan utama dari penggunaan material beton pada landmark tersebut.***








Komentar