Viral Menangis di Puncak, Dedi Mulyadi Tegaskan Kerusakan Alam Tak Bisa Dimaafkan

- Admin

Minggu, 4 Mei 2025 - 18:38 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Ayo Dukung Jurnalisme Kritis dan Obyektif
Traktir Kopi

Dedi Mulyadi kritik orang kaya yang rusak alam, sebut gunung sebagai ‘ibu’ yang harus dijaga. | YouTube.com / Lembur Pakuan - KDM Channel

Dedi Mulyadi kritik orang kaya yang rusak alam, sebut gunung sebagai ‘ibu’ yang harus dijaga. | YouTube.com / Lembur Pakuan - KDM Channel

KumpalanNEWS – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, kembali menyoroti persoalan kerusakan lingkungan di kawasan Puncak Bogor, Jawa Barat. Dalam pernyataan terbarunya, Dedi mengecam keras tindakan pihak-pihak yang merusak alam demi kepentingan pribadi.

Pernyataan itu disampaikan Dedi saat kunjungan kerja ke Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, Minggu (4/5/2025), sebagaimana disiarkan melalui kanal YouTube Lembur Pakuan. Ia menegaskan bahwa merusak alam sama dengan menyakiti diri sendiri, mengingat pentingnya peran alam dalam kehidupan manusia.

“Itu tidak bisa dimaafkan. Gunung, laut, air, angin—itu semua adalah ibu kita,” ujar Dedi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebelumnya, Dedi sempat menjadi sorotan publik usai video dirinya menangis saat menertibkan lahan di kawasan Puncak viral di media sosial. Dalam video tersebut, ia menyampaikan bahwa bagi masyarakat Sunda dan Jawa, gunung memiliki makna sakral dan harus dihormati.

“Saya mungkin orang yang mengerti sebagai orang Sunda. Orang Jawa pun sama. Gunung itu sesuatu yang dihormati,” jelasnya.

Selain mengkritik pelaku perusakan lingkungan, Dedi juga menyinggung perilaku kalangan ekonomi atas yang kerap melancong ke wilayah alam seperti pegunungan dan laut. Ia menyebut, hal tersebut sebagai bentuk kerinduan manusia terhadap alam yang ia ibaratkan sebagai sosok ibu.

“Sekarang banyak orang kaya pergi ke gunung dan laut. Kenapa? Karena mereka sedang rindu ibunya. Siapa ibunya? Gunung dan lautan,” ungkapnya.

Dedi menekankan pentingnya kesadaran kolektif dalam menjaga lingkungan, tanpa memandang status sosial ekonomi.

“Ayo kita jaga alam ini bersama, dari yang miskin sampai yang kaya raya,” pungkasnya.***

Follow WhatsApp Channel kumpalan.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Tiga Hari Dicari, Pemuda yang Terseret Ombak di Sukabumi Akhirnya Ditemukan
Danang Tak Terbendung, Ini 3 Besar Turnamen Catur RT 04/06 Desa Buniwangi
Bukan Sekadar Tempat Wisata, Ciletuh Kini Disiapkan Jadi ‘Kelas’ Terbuka bagi Pelajar
8.303 SPPG Belum Punya SLHS, BGN Minta Sertifikasi MBG Rampung 10 Agustus 2026
KTH Ciguha River Bogor Turun Langsung Bantu Warga Terdampak Kebakaran Ciptamulya Sukabumi
Di Tengah Puing Kebakaran Kasepuhan Ciptamulya, Satu Bangunan Ini Tetap Berdiri dan Jadi Sorotan
Tangis Anak SD Iringi Jenazah Ayahnya, Terungkap Fakta Baru Kasus Pengeroyokan di Bali
Tak Hanya Antar Bantuan, GRIB Jaya Siap Kerahkan Anggota untuk Korban Kebakaran Ciptamulya

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Kamis, 20 Agustus 2026 - 00:36 WIB

Tiga Hari Dicari, Pemuda yang Terseret Ombak di Sukabumi Akhirnya Ditemukan

Senin, 17 Agustus 2026 - 01:04 WIB

Danang Tak Terbendung, Ini 3 Besar Turnamen Catur RT 04/06 Desa Buniwangi

Jumat, 7 Agustus 2026 - 21:15 WIB

8.303 SPPG Belum Punya SLHS, BGN Minta Sertifikasi MBG Rampung 10 Agustus 2026

Rabu, 29 Juli 2026 - 18:58 WIB

KTH Ciguha River Bogor Turun Langsung Bantu Warga Terdampak Kebakaran Ciptamulya Sukabumi

Rabu, 29 Juli 2026 - 05:38 WIB

Di Tengah Puing Kebakaran Kasepuhan Ciptamulya, Satu Bangunan Ini Tetap Berdiri dan Jadi Sorotan

Berita Terbaru